Begawan Penulis

Begawan Penulis
oleh Johan Wahyudi

Hiruk-pikuk dan gegap gempita plagiasi kembali menghentak dunia pendidikan. Di Klaten, Riau, Ponorogo, Bantul, Unpar Bandung, dan terakhir ITB. Ada apa dengan dunia pendidikan kita? Mengapa mereka berubah menjadi sedemikian beringas dengan nafsu jabatan, pangkat, dan gelar? Sudah begitu malaskah mereka untuk menulis?
Menulis itu sangat menyenangkan penulis dan pembacanya. Selain semangat berbagi, menulis itu juga mengembangkan pola piker untuk meng-upgrade keilmuan. Dalam memperbaharui pola piker tersebut, penulis sering dihadapkan pada keterbatasan ide dan pengembangannya. Kemampuan penulis jelas berbeda-beda. Bagi penulis mahir, masalah itu tidak menjadi masalah. Namun, bagi penulis pemula, masalah itu menjadi masalah besar. Lalu, bagaimanakah mengatasinya?
Meminjam istilah asing, ada perbedaan antara definisi autor dan writer. Jika diterjemahkan, autor itu pengarang sedangkan writer itu penulis. Keduanya akan menghasilkan bentuk yang sama, yaitu lambang huruf yang terbaca atau wacana. Namun, keduanya mempunyai perbedaan yang mencolok, yaitu pada proses kreatifnya. Seorang pengarang (autor) merupakan penulis sejati. Ia mengembangkan karangannya dengan mengeksplorasi dan mengeksploitasi potensi diri secara maksimal. Namun, wujud kegiatan itu dibatasi pada kemampuannya menggunakan imajinasi. Pengarang adalah pewujud mimpi. Maka, perhatikanlah pengarang-pengarang cerpen, novel, atau skenario hebat. Mereka selalu diliputi bayangan-bayangan imajinasi sehingga menghasilkan karya-karya terbaiknya.
Ini berbeda dengan penulis (writer). Penulis itu hanya merangkai pikiran sendiri dan orang lain. Ia mengkompilasi pikirannya. Ketika ide telah ditulis, ia menemukan kebuntuan. Maka, penulis yang baik tidak akan memaksakan ide dengan sekadar menulis. Ia akan berhenti untuk mencari rujukan dan referensi melalui membaca buku karya orang lain. Tatkala ditemukan kesesuaian ide, penulis mengutip bagian yang dianggap relevan. Adanya kutipan-kutipan itu adalah bentuk sikap ilmiah seorang penulis. Seorang penulis harus berjiwa besar dan bersikap ksatria. Jika memang bukan karyanya, ia harus mengakui bahwa itu memang bukan karyanya. Wujud sikap itu adalah peletakan sumber kutipan dalam daftar pustaka. Semakin banyak daftar pustaka, itu menandakan sikap kebegawanan seorang penulis sejati. Dan sikap itulah yang seharusnya dimiliki penulis-penulis Indonesia. Semoga kejadian itu tak lagi terjadi. Jangan membuat saya malu.

MENINGKATKAN PROFESIONALISME GURU DENGAN MENULIS BUKU*

Oleh :
Johan Wahyudi


Pengantar


“Buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku, sejarah menjadi sunyi, sastra menjadi bisu, ilmu pengetahuan pun lumpuh, serta pikiran dan spekulasi mandek.”
(Barbara Tuchman)

Ungkapan Barbara Tuchman di atas benar-benar mengetuk hati jikalau mau merenung-kannya. Betapa besar manfaat sebuah buku. Manfaat yang takkan berbanding dengan apapun. Buku adalah samudera ilmu yang takkan habis ditimba dan diminum. Buku adalah guru paling bijaksana. Buku takkan pernah marah dan takkan pernah berdendam. Justru buku akan tertawa karena ia terbuka. Buku akan memberikan semua yang dimilikinya, tanpa harap berbalas. Dengan buku pula, seseorang dapat berdialog dengan pikiran penulis. Pakar pendidikan, Rene Descartes, pernah berkata, “…membaca buku yang baik itu bagaikan mengadakan percakapan dengan cendekiawan yang paling cemerlang dari masa lampau-yakni para penulis itu. Ini semua bahkan merupakan percakapan berbobot lantaran dalam buku-buku itu mereka menuangkan gagasan-gagasan mereka yang terbaik semata-mata…” (http://grelovejogja.wordpress.com/2007/08/07/motifasi-membaca-dan-menulis/#comment-2662 diakses pada 30 Nopember 2008)
Jika sudah diketahui kebaikan sebuah buku, tentu akan lebih baik pula penulisnya. Penulis buku telah berjibaku untuk mengimplementasikan pikiran menjadi sebuah buku. Penulis pastilah akan menuangkan semua gagasan terbaik. Ia akan mencari referensi ketika ia sedang ‘mati ide’. Ia takkan pernah memaksakan diri untuk berani berteori tanpa dasar ilmiah yang kuat. Penulis menyadari bahwa sebuah buku akan menciptakan perubahan krusial dan fundamental. Karena itulah, penulis buku pastilah seseorang yang profesional.

Guru (dan) Menulis
Menurut Moh. Uzer Usman (2005: 7), tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar, dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa.
Proses belajar berhubungan dengan bagaimana seseorang melakukan suatu kegiatan jasmani dan rohani dalam rangka memperoleh pengetahuan baru. Soedomo Hadi (2005: 23) mengemukakan bahwa tugas-tugas pendidik dikelompokkan menjadi tiga, yaitu (1) Tugas Educational ; (2) Tugas Instruksioanal; (3) Tugas Managerial.
a. Tugas Educational
Dalam hal ini pendidik mempunyai tugas memberi bimbingan yang lebih banyak diarahkan pada pembentukan “kepribadian” anak didik, sehingga anak didik akan menjadi manusia yang mempunyai sopan santun tinggi, mengenal kesusilaan, dapat menghargai pendapat orang lain, mempunyai tenggang rasa terhadap sesama, rasa sosialnya berkembang, dan lain-lain.
b. Tugas Instruksional
Dalam tugas ini kewajiban pendidik dititikberatkan pada perkembangan dan kecerdasan daya intelektual anak didik, dengan tekanan perkembangan kemampuan kognitif, kemampuan afektif, dan kemampuan psikomotorik, sehingga anak dapat menjadi manusia yang cerdas, bermoral baik, dan sekaligus juga terampil.
c. Tugas Managerial (Pengelolaan)
Dalam hal ini pendidik berkewajiban mengelola kehidupan lembaga (kelas atau sekolah yang diasuh oleh guru). Pengelolaan itu meliputi :
Personal atau anak didik, yang lebih erat berkaitan dengan pembentukan kepribadian anak.
Material dan sarana, yang meliputi alat-alat, perlengkapan media pendidikan, dan lain-lain yang mendukung tercapainya tujuan pendidikan.
Operasional atau tindakan yang dilakukan, yang menyangkut metode mengajar, sehingga dapat tercipta kondisi yang seoptimal mungkin bagi terlaksananya proses belajar mengajar dan dapat memberikan hasil sebaik-baiknya bagi anak didik.
Selain pendapat di atas, Adam dan Decey (dalam Moh. Uzer Usman, 2005: 9), berpendapat bahwa peranan dan kompetensi guru dalam proses belajar mengajar meliputi beberapa hal, yaitu (1) Guru sebagai demonstrator; (2) Guru sebagai Pengelola Kelas; (3) Guru sebagai Mediator dan Fasilitator; (4) Guru sebagai Evaluator.
Melalui peranannya sebagai demonstrator, guru hendaknya senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkan serta senantiasa mengembangkannya dalam arti meningkatkan kemampuannya dalam hal ilmu yang dimilikinya karena hal ini sangat menen-tukan hasil belajar yang dicapai siswa.
Dalam peranannya sebagai pengelola kelas, guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Lingkungan ini perlu diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan.
Sebagai mediator, guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena media pendidikan merupakan alat komunikasi untuk lebih mengefektifkan proses belajar mengajar. Sebagai fasilisator, guru hendaknya mampu meng-usahakan sumber belajar yang berguna serta dapat menunjang pencapaian tujuan dan proses belajar mengajar, baik yang berupa nara sumber, buku teks, majalah, ataupun surat kabar.
Guru hendaknya menjadi evaluator yang baik. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai atau belum, dan apakah materi yang diajarkan sudah cukup tepat. Semua pertanyaan tersebut akan dapat dijawab melalui kegiatan evaluasi atau penilaian.Pada akhirnya harus ada hubungan saling bekerja sama antara guru dengan siswa dalam kegiatan belajar mengajar, agar tercapai tujuan akhir dari pembelajaran yang dilakukan. Guru tidak akan berarti bila tidak ada siswa. Sedangkan siswa hendaknya melaksanakan pembelajaran dengan baik sesuai dengan bimbingan guru.
Untuk meningkatkan profesionalisme, guru hendaknya dapat menulis. Menulis dalam pengertian luas, seperti menulis buku ajar, buku pengayaan, artikel, makalah, atau penelitian tindakan kelas (classroom action research). Ini disebabkan menulis dan guru ibarat sekeping mata uang yang saling berkait dan saling mendukung. Dengan menulis, seorang guru akan mendapatkan banyak keuntungan, seperti :
1. menguasai materi pelajaran dengan lebih baik. Ketika menulis buku, sebenarnya guru telah belajar untuk materi pelajaran yang akan diajarkan. Secara otomatis, materi pelajaran itu dikuasai dengan lebih, bahkan sangat baik;
2. bertambah kewibawaan dan kesahajaannya di depan siswa. Seorang guru yang menguasai materi pelajaran dengan baik, ia akan disegani, dihormati, penuh percaya diri dan tampak lebih berwibawa di depan siswa;
3. menjadi teladan di lingkungan kerja dan masyarakat karena tidak berteori saja. Istilah lain : tidak jarkoni (iso ujar tidak bisa nglakoni= bisa bicara tak bisa menjalaninya). Ketika telah menunjukkan kemampuannya mengimplementasikan ide menjadi sebuah buku, seorang guru akan dikenal dan terkenal di masyarakat. Kemampuannya itu akan menem-patkan dirinya sebagai figur atau teladan;
4. memperoleh keuntungan finansial yang lebih dari cukup. Awal Januari 2008 lalu, pemerintah melalui BSNP, Badan Standar Nasional Pendidikan, melakukan sosialisasi penulisan buku ajar. Untuk buku yang dinyatakan lolos, pemerintah akan membelinya dengan banderol Rp 100 juta – Rp 175 juta per judul. Bayangkan jika ada seorang penulis mampu meloloskan lima buah buku. Ia telah menganthongi uang tak kurang dari Rp 500 juta. Itu yang menggunakan sistem beli hak cipta. Sekarang, bandingkanlah yang meng-gunakan jalur royalti. Saat ini, perusahaan penerbitan memberikan royalti berkisar 5% - 10%. Bayangkanlah jika sebuah buku dicetak 100 ribu per judul. Berapakah royalti yang akan diterimanya? Maka, adakah seorang penulis yang miskin?;
5. dapat menaikkan pangkat dan golongan secara cepat. Untuk kenaikan pangkat dan golongan dari IVa ke IVb, seorang guru dituntut dengan kemampuan menulis karya ilmiah sejumlah 12 poin. Berdasarkan pedoman Penilaian Angka Kredit (PAK), sebuah buku ajar yang lolos bernilai 8 poin. Artinya, dengan dua buku saja, seorang guru sudah lebih dari cukup untuk nongkrong di golongan IVb. Bandingkanlah dengan penelitian tindakan kelas (PTK) yang hanya bernilai 4 poin;
6. mengkomunikasikan idenya dengan leluasa. Penulis adalah raja. Ia dapat berbuat apa saja dengan tulisannya. Kebebasan berekspresi dan mengekspresikan ide akan membuahkan ide-ide cemerlang. Semakin sering penulis menuangkan ide, ia akan semakin pandai dan matang dalam menulis;
7. dapat menguatkan, menolak, dan memunculkan ide atau gagasan baru karena terus belajar. Ketika menulis, seorang penulis akan mengendapkan atau sedimentasi ide. Penulis akan menyelaraskan setiap ide yang ditemukan. Jika ditemukan keganjilan, penulis akan melakukan pembandingan ilmiah. Akhirnya, apakah ide itu ditolak, dikuatkan, atau justru menemukan ide baru;
8. mendakwahkan ilmu dengan cara baik dan bijaksana. Metode dakwah atau menyiarkan ilmu yang paling baik adalah dengan menuliskannya. Artinya, seorang penulis sebenarnya juga seorang misionaris, dai, mubaligh, atau pun guru. Jika ia menulis dengan niat ikhlas berdakwah, maka ia tidak hanya mendapatkan keuntungan materi, tetapi akan mendapat-kan lebih dari itu, yaitu keuntungan rohani/pahala;
9. dapat menemukan metode pembelajaran yang paling tepat. Ini disebabkan karena guru telah menguasai materi pelajaran. Ketika materi pelajaran telah dikuasai, penulis buku yang juga seorang guru akan menemukan metode pembelajaran dengan tepat. Penulislah yang paling tahu materi dan metode pembelajaran yang paling tepat digunakan;
10. berkesempatan berjumpa dengan petinggi negara. Ketika surat keterangan lolos BSNP akan diberikan, seorang penulis akan diundang pejabat berwenang untuk menerima SK tersebut secara langsung. Itulah saat paling membahagiakan karena dapat berjumpa dengan orang yang selama ini hanya dapat dilihat melalui media. Sudah diundang, diberi uang saku, diberi akomodasi, tiket pesawat gratis, dan lain-lain;
11. berkesempatan untuk menjadi pembicara, narasumber, atau tamu pada forum ilmiah. Lagi-lagi, keuntungan berlipat akan didapat. Keuntungan untuk mempromosikan buku hasil tulisannya, mendapatkan sertifikat sebagai pembicara, dikenal dan terkenal, men-dapatkan keuntungan uang saku, mendapatkan kesempatan untuk berbagi pengalaman, dan lain-lain.
Semua aspek dapat dimanfaatkan dan mendatangkan keuntungan. Semua celah akan menjadi sebuah kesempatan. Dan kesempatan tidak akan datang dua kali. Oleh karena itu, begitu kesempatan itu datang, hendaknya guru tidak membiarkan kesempatan itu berlalu. Memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan lebih dari sekadar bayangan. Karena memang sedemikian banyak keuntungan yang akan diperolehnya. Maka, seorang guru harus memotivasi diri agar secepatnya berkarya.

Menjadi Penulis Buku
Jika motivasi kuat untuk menjadi penulis sudah dimiliki, seorang guru dapat memulai untuk berkarya. Untuk menjadi seorang penulis buku, tidak diperlukan modal banyak. Seorang penulis buku hanya membutuhkan ketekunan. Jika sifat itu sudah dimiliki, seorang penulis buku tinggal memilih jenis buku yang akan ditulisnya.
Jenis buku ada bermacam-macam. Berdasarkan isinya, buku diklasifikasikan menjadi dua, yaitu buku fiksi dan buku nonfiksi. Berdasarkan peruntukannya, buku diklasifikasikan menjadi buku umum dan buku sekolah. Berdasarkan tujuannya, buku diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu buku ajar dan buku pengayaan. Inilah yang akan dibahas.
1. Buku Ajar
Buku ajar adalah buku yang digunakan dalam proses kegiatan belajar. Buku ajar dikenal pula dengan sebutan buku teks, buku materi, buku paket, atau buku panduan belajar. Untuk menjadi penulis buku ajar, dapat diawali dengan tahapan-tahapan berikut.
a. Membaca dan menelaah Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SKKD). SKKD adalah standar isi buku yang mengacu kepada kurikulum yang sedang digunakan.
b. Menyusun peta konsep. Peta konsep adalah sistematika pendistribusian materi yang mengacu kepada SKKD.
c. Mengumpulkan materi yang relevan dengan SKKD untuk dijabarkan sesuai dengan peta konsep. Materi ini harus disesuaikan dengan jenjang pendidikan, aktualitas, kemenarikan, kegunaan, dan eksklusivisme.
d. Membaca buku ajar yang telah dinyatakan lolos BSNP agar memperoleh inspirasi dan dapat membuat modifikasi.
e. Memahami instrumen penilaian buku ajar yang telah ditetapkan BSNP. Ini disebabkan setiap buku ajar harus dinilaikan ke BSNP agar diperoleh standar isi yang sama.
f. Mengembangkan materi sesuai dengan peta konsep. Akan lebih baik jika diawali dari tingkat kebahasaan yang dikuasai.
g. Merefleksikan koherensi materi dalam satu bab/unit untuk ditemukan kekurangan.
h. Minta pertimbangan pihak lain untuk memberi kritikan atau in put.
i. Buku siap dicetak
2. Buku Pengayaan
Buku pengayaan yaitu buku yang diperuntukkan untuk memperkaya dan memperkuat materi yang telah disajikan dalam buku ajar. Buku pengayaan mempunyai banyak kelebihan dibandingkan buku ajar, seperti :
a. Tidak dibatasi usia kurikulum.
b. Buku pengayaan mempunyai cakupan yang lebih luas. Materi apapun dapat diguna-kan sebagai bahan penulisan.
c. Mempunyai masa edar lebih lama sehingga menguntungkan secara finansial.
d. Kajian hanya menfokus ke topik/judul sehingga tidak melelahkan.
e. Biasanya lebih tipis dan harga terjangkau.
f. Dapat ditulis tanpa batas waktu (deadline).
Untuk menulis buku pengayaan, seorang penulis sebaiknya memahami langkah-langkah di bawah ini.
a. Memahami dengan baik SKKD sesuai dengan jenjang pendidikan.
b. Mengidentifikasi komponen SKKD yang masih memerlukan buku pengayaan.
c. Menyusun mind set.
d. Mengumpulkan bahan.
e. Mengembangkan bahan sesuai dengan yang telah dibuat.
f. Meminta pihak ketiga untuk memberi masukan atau in put.
g. Buku siap dicetak.

Menembus Dunia Penerbitan (Publishing)
Sudah siapkah naskah buku Anda untuk diterbitkan? Percuma seorang penulis jikalau naskah itu tidak dipublikasikan. Keinginan untuk berbagi ilmu dengan pembaca dan menjadi terkenal kandas di tengah jalan. Untuk menghindari keadaan yang demikian, Anda perlu melakukan beberapa hal berikut ini.
1. Cobalah Anda banyak bersosialisasi dengan kalangan penulis, kritikus, resensator, dan penerbit. Sampaikan bahwa Anda mempunyai naskah buku yang menarik dan belum ada pesaing-nya. Jika penerbit belum tertarik, mintalah nomor telepon dan alamat penerbit agar suatu saat dapat berkomunikasi lagi. Anda pun dapat mencari alamat penerbit di buku telepon atau lewat internet.
2. Jika penerbit mulai tertarik, cobalah Anda selalu berkomunikasi dengan pihak penerbit, khususnya editor. Ini agar terjalin komunikasi dan mempermudah langkah Anda menuju dunia penerbitan. Editor adalah orang yang akan mengemas buku Anda sesuai karakteris-tik penerbit atau perusahaan. Di tangannyalah nasib naskah buku Anda ditentukan.
3. Jika naskah Anda perlu perbaikan atau revisi, ikutilah saran itu agar kesempatan itu tidak terbuang. Lakukan dan berikanlah naskah terbaik agar Anda menjadi anak emas penerbit. Setiap penerbit mempunyai karakteristik atau spesifikasi sendiri. Ini berkaitan dengan tujuan sebuah penerbitan, yaitu meraih untung atau profit.
4. Setelah naskah dianggap baik, Anda akan diberi dua opsi atau pilihan : beli putus atau royalti. Beli putus artinya naskah Anda dibeli tunai dan hak cipta telah berpindah tangan. Sistem royalti yaitu sistem bagi hasil sesuai dengan jumlah buku yang terjual. Royalti untuk penulis berbeda-beda. Namun, royalti penulis Indonesia berkisar 5% - 10% dari harga buku. Kedua sistem ini mempunyai kelebihan dan kekurangan.
5. Jika naskah buku Anda belum beruntung diterbitkan, Anda dapat menjualnya melalui iklan, internet, dan hand out. Oleh karena itu, Anda perlu menambah wawasan tentang dunia publishing.
6. Agar produktivitas menulis Anda makin baik, cobalah selalu mengikuti even atau kegiatan, semacam lomba/sayembara menulis, bedah buku, diskusi, dan lain-lain. Ini bertujuan lebih dari sekadar silaturahmi. Dengan mengikuti kegiatan tersebut, trend buku yang menjadi best seller beserta dengan kelebihan buku telah Anda dapatkan.
7. Sering-seringlah Anda membaca buku best seller. Buku dikatakan best seller pasti mempunyai kelebihan yang tidak ditemukan dalam buku lain. Maka, inspirasi Anda pun berkembang dan bertambah.
8. Jika suatu saat Anda diundang untuk mengikuti suatu even, manfaatkanlah even itu untuk mempromosikan kemampuan Anda. Tonjolkanlah melalui kemampuan Anda berko-munikasi dan menguasai isi buku yang Anda tulis dengan baik dan benar.
9. Jika ada pihak lain mengajak untuk berkolaborasi atau bekerja sama menulis buku, janganlah kesempatan itu Anda buang. Gunakanlah kepercayaan itu sebagai batu loncatan untuk menjadi penulis terkenal. Ingatlah, bahwa pohon tumbuh tinggi dan besar berawal dari sebutir biji.
10. Jika Anda telah terkenal dan dikenal, peliharalah nama baik Anda dengan selalu konsisten terhadap ilmu yang telah Anda tulis. Ingat, lebih mudah meraih daripada menjaganya. Bersikaplah ringan kaki untuk pergi menyampaikan kebenaran. Jangan kikir berbagi. Banyak memberi akan banyak menerima.
Nah, kini Anda telah menjadi guru yang profesional. Seorang guru yang juga seorang penulis buku. Seorang guru yang menguasai materi pelajaran dengan sangat baik. Seorang guru yang mempunyai kreativitas mengembangkan materi dan metode pembelajaran. Seorang guru yang mampu mengimplementasikan pikiran dan kecemerlangan ide menjadi sebuah buku. Anda akan dikenal banyak orang dan dikenang sejarah. Bahkan, Anda telah menjadi seorang guru yang serba kaya : kaya ilmu dan kaya harta. Namun, jangan lupa : Anda tetap seorang guru yang selalu dinanti generasi bangsa ini.

DAFTAR PUSTAKA

Akhadiah, Sabarti dkk. 2002. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta : Erlangga.
http://grelovejogja.wordpress.com/2007/08/07/motifasi-membaca-dan-menulis/#comment-2662 diakses pada 1 Desember 2008.
Moh. Uzer Usman. 2005. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Muhibin Syah. 2008. Pembelajaran Bermakna. http://mgmpips.wordpress.com/2008/04/06. diakses pada 1 Desember 2008..
Oemar Hamalik. 2003. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Partoyo. 2007. Upaya Meningkatkan Minat dan Kompetensi Menulis Karangan dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Pendekatan CTL (PTK, Tesis). Surakarta : UNS.
Permendiknas No. 22/2006 tentang Standar Isi.
Permendiknas No. 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan.
Permendiknas No. 24/2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan
Pusbuk Depdiknas. 2008. Sosialisasi Penilaian Standar Buku Teks Pelajaran 2008 (Periode 1). Solo : Pusbuk-Ikapi Jawa Tengah.
Soedomo Hadi. 2005. Pendidikan (Suatu Pengantar). Surakarta: LPP dan UNS Press.

0 komentar: